Sabtu, 04 Desember 2010

Dari Cemorolawang Memandang Bromo



NORMAN, Sapariah dan aku berlibur akhir tahun di Cemorolawang guna mendaki Gunung Bromo. Kami naik kereta api Mutiara Timur dari Jember ke Probolinggo. Seorang sopir dan keneknya menjemput kami di stasiun Probolinggo. Kami naik mobil Isuzu besar dari Probolinggo, Sukapura, Ngadisari hingga Cemorolawang. Jarak Probolinggo hingga Cemorolawang sekitar 55 KM.

Kami menginap di Hotel Cemoro Indah Rp 600,000 semalam. Kamarnya sederhana. Namun pemandangan dari jendela kamar luar biasa. Kami langsung melihat Gunung Bromo dan Gunung Batok. Malam hari, Norman sempat batuk dan susah tidur karena kasurnya kurang bersih. Norman punya asma. Dia sangat peka terhadap debu. Aku duga mereka kurang rajin menjemur kasur springbed serta selimutnya. Namun kamar kami menyediakan air panas. Ini penting mengingat kawasan Tengger cukup dingin. Suhu berkisar 5-18 Celcius. Kami datang saat musim hujan dimana suhu kurang begitu dingin. Angin juga kurang kencang. Suhunya sejuk saja.

Norman dan aku di Cemorolawang, petang hari, menjelang makan malam. Cemorolawang terletak 2.5 KM dari Gunung Bromo. Ia dusun terdekat ke Bromo bila ditempuh dari Probolinggo. Kawasan Tengger adalah daerah Hindu di Pulau Jawa. Para warga Tengger, sekitar 6,000 orang, berpendapat moyang mereka adalah orang-orang Hindu Majapahit yang lari dari serbuan kerajaan Islam Demak. Kata "Bromo" asalnya dari "Brahmana." Artinya, pendeta atau kaum suci dalam agama Hindu. Kata "Tengger" dari Roro Anteng dan Joko Tengger. Pasangan ini dipercaya sebagai nenek moyang kaum Tengger. Bromo gunung api yang aktif, menyemburkan asap belerang setiap hari. Pemandangan dari Cemorolawang sangat menakjubkan.

Sapariah menyukai pengalaman naik kuda di Lautan Pasir. Menurut hipotesa geologist Belanda B.G. Escher, sekitar sejuta tahun lalu Gunung Tengger terbentuk dengan dua puncak gunung. Ia gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 4,000 meter. Ia meledak beberapa kali sehingga terciptalah Kaldera Tengger dengan beberapa anak gunung: Watangan (2601 meter), Widodaren (2614), Kursi (2581), Batok (2440) dan Bromo (2392). Luas kaldera ini 5,250 hektar. Garis terpanjang 8 KM dan terpendek 6 KM. Semua gunung ini dihubungkan oleh lautan pasir. Ia sangat cepat menyerap air. Ada setidaknya 50 sungai bermata air dari kawasan Segara Wedi. Kaldera ini sangat penting sebagai sumber air di kawasan Jawa Timur.

Norman merasa "excited" naik kuda dari Cemorolawang ke Gunung Bromo. Dia masih dituntun oleh tukang kuda, seorang petani Tengger. Kami membayar Rp 250,000 untuk dua ekor kuda, pergi-pulang Cemorolawang-Bromo. Seekor kuda sewanya Rp 125,000. Si petani dapat Rp 40,000. Dia membayarkan sisanya untuk perantara Rp 25,000 serta si pemilik kuda Rp 60,000. Sekitar Rp 15,000 dipakainya untuk makanan kuda. Kawasan Tengger adalah daerah tertutup. Mereka tak mengizinkan orang luar membeli tanah. Norman minta diajak ke Tengger lagi dalam liburan yang akan datang.

Norman suka memakai tutup kepala dan syal yang dibelinya di Cemorolawang. Katanya, mirip "assasin" apalagi kalau pakai menempel dinding dan pagar rumah. Dia sedang pura-pura menjadi seorang "assasin," katanya. Kami main-main depan kamar kami di Hotel Cemoro Indah. Pemandangan dari jendela kamar ini langsung menghadap Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar